My Friend, My Beautiful Enemy

Berapa teman yang kamu punya? Kalo aku tidak banyak, bisa dihitung jari. Sedikit memang, tapi yang sedikit itu justru yang benar-benar membuat hidupku penuh warna.

Teman dalam arti yang sebenarnya. Bukan teman yang sekedar mengenal, satu sekolah, satu kampus, atau satu pekerjaan. Teman yang tidak hanya tahu, tapi mengingat dengan pasti tanggal lahir kita, juga makanan kesukaan, kebiasaan, orang-orang tersayang, film favorit, tempat kesukaan, bahkan mimpi dan harapan. Teman yang tidak sungkan mengkritik, tetapi membangun. Teman yang tidak perlu jaga image, yang hobi menasihati dan sok tua, saling mencela, bahkan yang punya panggilan sinting. Namun, teman yang akan selalu dicari kala bahagia karena jatuh cinta atau sedang terperosok karena patah hati, yang ingin saling berbagi saat dapat rezeki lebih, dan yang selalu ada saat dunia seakan berbalik arah,

Apa pertemanan seperti itu akan baik-baik saja? Akan tetap harmonis, mesra, dan gila? Tidak juga.

Aku punya seorang teman. Bertemu sejak SMA, satu kelas di tahun pertama. Aku tidak akan banyak bercerita, bagaimana kami melewati persahabatan selama 14 tahun ini. Namun yang pasti, kami sering sekali bertengkar, berselisih paham, saling berdiam hingga beberapa bulan. Namun, entah mengapa, kami seakan tak terpisahkan.

Sifat kami sama-sama keras. aku sensitif, dia idealis. Aku blak-blakan, dia cenderung menyimpan masalah. Aku sok tahu, dia sok tua. Tapi kami sama-sama suka makan, main, beli baju kembar, pemburu barang diskon, online shop freak, dan banyak hal remeh lainnya.

Ada satu hal, entahlah, seperti chemistry yang membuat kami selalu berbaikan dan kembali berangkulan. Saat kami bertengkar dan saling mendiamkan, selalu saja ada perasaan rindu yang sama-sama gengsi untuk diutarakan. Dasar kekanak-kanakan!

Seperti belum lama ini, hal sepele kembali membuat kami bertengkar, perang status dan chat war (hal memalukan yang kerap diulang). Namun, moment sepele saja, yaitu hari lahirku seakan bisa membalikkan itu semua. Dia dengan sangat niat 😀 mengucapkan ulang tahunku lewat tengah malam. Oke, ini saja belum cukup, komunikasi kami masih datar dan ada jarak. Kemudian, selang beberapa waktu, sebuah paket dari perusahan jasa pengiriman mendarat di rumahku. Ternyata ini merupakan kado dari dirinya yang terlalu gengsi untuk diberikannya langsung kepadaku. Lucunya, hal ini pernah sama persis terjadi, beberapa waktu lalu saat hari ulang tahunnya. De Javu, tetapi dengan tokoh yang terbalik.

2015-06-09-08-10-23_deco

Setelah itu, kami kembali akrab, seakan tak pernah ada masalah. Kami memang membahas pertengkaran itu, tapi kemudian kami menertawakannya. Selalu begitu. Sungguh konyol.

Ada yang bilang, “Truly friends are hard to find, difficult to leave, and impossible to forget”. Friendship begins with simple talks. Its blooms to a long deep conversation. Next thing you know, you begin to care so much. Dan terkadang, permintaan maaf dan penyesalan tidak perlu diucapkan. Namun bisa dimengerti, cukup dengan saling menunjukkan kepedulian. Sahabat adalah hal penting yang Tuhan berikan, yang harus kita pertahankan. 🙂

2015-06-09-08-55-00_deco

Ini Kado darinya. Novel tentang persahabatan. Sempet melow dan langsung chat dia, bilang kalau aku melow nerima kado kiriman dia.. (What st*pid i am, pernyataan itu sungguh memalukan ) :/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s