Blood for Other

Ini bukan slogan atau motto kampanye, atau sekedar seruan. Ini adalah komitmenku untuk berbagi dengan sesama.

Seperti yang aku lakukan kira-kira 3 tahun ini, Sabtu kemarin aku pergi ke PMI cabang Bogor, tepatnya di jalan Kresna Jaya (Indraprasta), sendirian, ditemani si ijo (sepeda motor kesayangan) untuk donor darah. Tapi ternyata aku ditolak untuk donor saat itu, karena HB rendah. HB normal untuk donor sekitar 12,5, sedangkan HB ku saat itu hanya 11,8. Ya sudah, aku pulang saja.

Kecewa? Tentu saja tidak. Ini kali ke-3 aku ditolak donor karena HB rendah. Waktu pertama kali ditolak memang sempat kecewa. Saat itu, sekitar satu tahun aku tidak lagi ke PMI untuk donor karena rasa takut yang sama, takut ditolak. Dulu sempat bikin kiasan, ditolak donor karena HB rendah itu sama seperti ditolak saat menyatakan cinta, bikin galau (halahhh). Padahal, cara biar gak ditolak donor lagi itu sederhana. Jaga pola hidup. Banyak makan sayuran hijau, banyak minum air mineral, tidur yang cukup, dan (mungkin ini pesan sponsor si petugas PMI) minum sangobion.

Beberapa waktu setelah aktif donor kembali, aku sempat ditolak untuk keduakalinya. Kali ini bisa lebih menerima dan memperbaiki pola hidup, lalu pede kembali ke PMI untuk donor setelah dirasakan sudah cukup fit. Lalu, terakhir ditolak, ya Sabtu kemarin. Aku tidak kaget karena memang belakangan ini rasanya kurang asupan makanan sehat dan minum yang cukup, trus jadwal tidur juga berantakan.

Aku ingat, saat pertama kali donor beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, darahku dibutuhkan untuk almarhum mamang (adiknya almrh ibu) yang sedang sakit ginjal dan memang selalu membutuhkan tambahan darah setelah beberapa kali cuci darah. Pertama kali donor, rasanya campur aduk, antara takut dan penasaran. Cukup ngeri lihat jarumnya yang besar. Bisa dimaklumi, karena alhamdulillah sampai sekarang aku belum pernah dirawat karena sakit dan diinfus. Setelah donor yang pertama kali itu, entah kenapa aku ingin kembali dan jadi ketagihan donor.

Banyak kejadian tak terduga setiap kali donor. Dari dorong-dorongan kreseki si petugas PMI yang maksa ngasih bingkisan donor (apalah itu namanya, pokonya tanda terima kasih buat pendonor yang biasanya tuh isinya susu, biskuit, popmie, dll) dan aku yang berusaha nolak karena agak ribet udah banyak barang bawaan, lalu petugas PMI yang kesulitan menemukan pembuluh vena-ku hingga kedua lenganku bengkak, sampe kejadian pingsan di pinggir jalan pasca-donor. Anehnya, itu semua nggak bikin aku kapok. Setiap habis donor, pasti si petugas nanya, “pusing nggak mba?”, trus aku selalu jawab, “Pusing sih nggak Pak/Bu, cuma laper…” What the…. >.< Dan emang setiap abis donor alhamdulillah gak pernah ngerasain pusing sama sekali, malah justru lapar.

Setelah Sabtu kemarin ditolak, mungkin dua minggu lagi aku akan kembali ke PMI untuk mencoba donor lagi (mudah-mudahan gak ditolak lagi yaa #pray). Semangat banget…?! Yup, entah kenapa, seakan sudah berkomitmen ke diri sendiri, kalo donor itu sudah merupakan kebutuhan. Selain dapet sehatnya, juga dapet nilai sosialnya (mestinya sih gak usah diomongin juga yah, hehee). Rasanya bahagia aja kalo bisa bermanfaat untuk orang lain, dan membuat orang lain lebih bahagia dengan apa yang udah kita berikan. Ini Cuma hal kecil yang bisa aku berikan untuk orang lain atas nama kemanusiaan. InsyaAllah aku akan terus memberi, dengan menjadi pendonor darah, hingga aku mati atau tidak lagi bisa mem2015-09-07-15-03-29_decoberi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s