Gunung Bongkok, 2 jam yang bikin punggung membongkok

Sering piknik ke mana-mana, baru kali ini kepikiran bikin catper beneran 😀 Padahal punya dua akun blog tapi dianggurin sampe banyak sarang laba-labanya. Oke, cukup penyesalannya. Kali ini aku mau berbagi cerita perjalanan, pengalaman, dan keseruan di Gunung Bongkok, tepatnya di daerah Purwakarta, Jawa Barat, tanggal 12-13 September kemarin. #VerySyuperLatePostBanget

Masih asing dengan gunung yang namanya Bongkok? Sama!

Berawal dari ajakan si Ucup, teman di grup whatsapp “Woles” (mungkin nantinya aku mau bikin tulisan tentang genk gunung yang solid ini ^^ *yakali, bikin catper aja baru kali ini coba2*) yang ngajak join ke gunung Bongkok di akhir pekan. Dengan predikat cewek gampangan (alias gampang banget diajak piknik), tanpa ba..bi..bu, aku langsung ngetik, “ikuuuutttt….” Beberapa saat setelah itu, baru deh mikir. Hm, apaan tuh Gunung Bongkok…?

Setelah gugling, baru deh tahu kalo gunung Bongkok itu ada di Purwakarta. Gunung yang tingginya gak sampe 1000meter ini (tepatnya 975 mdpl) diganyang jadi lokasi yang cocok buat kemcer dan pendaki pemula. Langsung kepikiran ngeracunin temen (namanya Nova, suka ngetrip tapi belum pernah kemcer & naik gunung beneran) buat ikutan. Gunung ini sebenernya bisa tektok alias pp (duh, gak ada istilah yg kerenan dikit ya?!), tapi emang karena niat buat kemcer, jadi kami mutusin ngecamp.

Hari H tiba. Selain aku dan Ucup, piknik kali ini juga dimeriahkan oleh Ridwan (temennya Ucup), Mba Wid, Rinny, & Panji (geng Woles), Efi (temennya mba Wid & Ucup), Fia, Rika, & Satrio (temennya Ridwan), dan juga Nova. Sayangnya, Jeje (Woles) gak jadi ikutan karena sakit pas hari H. Kepala suku kami (Ucup & Ridwan) mutusin untuk meeting point dan berangkat dari terminal Kp.Rambutan menggunakan bus. Sebenernya bisa juga berangkat dengan kereta api lokal dari stasiun kota dan pastinya jadi jauh lebih murah. Tapi demi mengefisiensikan waktu (mengingat kereta paling pagi dari Jakarta ke Purwakarta itu jam 10an), kami pun berkumpul jam 8 dan akhirnya berangkat jam 9 pagi dari terminal dengan ongkos sekitar 20rbu/orang.

Sekitar 2 jam kemudian, tepatnya pukul 11, kami pun sampai di Cigamea, yang merupakan titik terakhir pemberhentian bus. Dari situ kami menyewa angkot dengan tarif hasil negosiasi alot 500rbu pp. Perjalanan pun dimulai dari sini.

FHD0002

Alhamdulillah saat itu cuaca cerah (cenderung panas membara), jadi kebayang, malemnya di gunung pasti dingin banget. Perjalanan dari Cigamea sampai pos pendaftaran lumayan lama, sekitar 1 jam lebih dikit, dengan trek yang cukup dahsyat, sampe bikin formasi keril & daypack di pojokan angkot yang numpuk jadi ambruk meniban kami yang ada di sampingnya. Yup, jangan bayangin aspal jalan yang licin, yang ada aspal ngasal, bebatuan, dan tanah kering. Di beberapa titik perjalanan mengingatkanku pada jalur menuju basecamp sembalun-Rinjani, banyak pohon berjajar & monyet. Angkot yang kami tumpangi sempat melewati pasar (yup, mampir belanja duluu) dan stasiun purwakarta yang kalo naik kereta pasti lewat sini. Kemudian kami bertemu pertigaan dengan penanda jalan yang jelas, ke kanan untuk jalur menuju Gunung Lembu, serta ke kiri jalur untuk menuju Gunung Bongkok dan Gunung Parang. Kami pun berbelok ke kiri.

Pos 1 alias pos perizinan ditandai dengan adanya kantin sederhana dan bangku-bangku rotan panjang di depannya. Untuk memperoleh izin trekking, cukup membayar Rp2000/orang dan Rp5000/tenda. Kami pun membayar untuk 11 orang dan 2 tenda. Sebenarnya kami membawa 3 tenda, tapi rasanya cukup hanya dengan mendirikan 2 tenda.

FHD0008FHD0010

Aku pikir, pendakian akan dimulai dari sini, ternyata dari pos 1 menuju pos 2 hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Di pos 2 atau yang bernama Munclu terdapat bangunan kayu rotan besar yang bisa dijadikan tempat beristirahat dan persiapan sebelum dimulai pendakian. Kata pengurus setempat, tempat ini juga kerap digunakan pendaki yang hendak menginap, tetapi tidak membawa tenda atau nge-camp di area camp. Kami memutuskan istirahat sejenak, sholat, dan merapikan kembali tas bawaan kami di sini.

FHD0028 FHD0029

Setelah cukup beristirahat, sholat, dan makan siang, kami memulai perjalanan sekitar pukul 1 siang. Trek pertama yang  kami lalui ditandai dengan kawasan pepohonan bambu. Selain itu, terdapat batu-batu besar yang membuatku takjub dan mengingatkanku pada Gunung Api Purba di Gunung Kidul Yogyakarta. Sementara itu, trek yang kami lalui cukup menguras tenaga, karena terus menanjak dan hanya sedikit bonus. Mungkin ini yang dibilang kecil-kecil cabe rawit, biar pun nggak tinggi, tapi bikin ngos-ngosan.

Jalur yang lumayan memiliki kemiringan curam ini dibantu dengan sudah adanya tali webbing di beberapa titik. Untungnya saat itu cuaca cerah, nggak kebayang kalo hujan, pasti licin banget, mengingat kontur tanah dan kemiringan gunung ini

FHD0045 FHD0046 FHD00472015091403063020150914030638

Akhirnya kami sampai di persimpangan antar puncak datar (yaitu area camp) dan puncak batu tumpuk. Karena ingin segera mendirikan tenda dan leyeh-leyeh (halah), kami pun menuju puncak batu datar, sekitar 100 meter dari situ.

FHD0089 FHD0094

Agak takjub, karena begitu sampai di puncak datar, wilayah ini sepi sekali, hanya ada kami. Camp ground yang tidak terlalu luas ini seperti private kavling untuk kami 😀 Kami menghabiskan waktu 2 jam untuk sampai ke sini, atau tepat jam 3 dari pos 2 hingga kami sampai di sini.

Selanjutnya, kami menghabiskan waktu untuk memasak, berfoto, dan bercengkrama seru. Wilayah ini tertutup pepohonan, sehingga kami tidak bisa melihat matahari terbenam. Jika mau jalan sedikit dan agak naik, kami bisa melihat pemandangan ke bawah dengan waduk jatiluhur sebagai latar belakangnya. Namun, di sini pun kami tidak bisa melihat sunset karena posisinya justru membelakangi. Jika ingin ke puncak yang bisa melihat pemandangan sekeliling, bisa menuju ke puncak batu tumpuk. Tapi karena niat kami adalah bersantai, kami urungkan ke sana dan berencana untuk mengulurnya hingga besok.

FHD0130 FHD0133 FHD0163 FHD0181

Tidak seperti perkiraanku, cuaca di sini tidak terlalu dingin. Bahkan, jika berada di dalam tenda, sleepingbag dan jaket hampir tidak terpakai karena sudah cukup hangat. Udara dingin justru berasal dari angin yang bertiup cukup kencang.

Pagi hari setelah selesai sarapan, beres-beres tenda, dan packing, kami siap untuk turun, tapi sebelumnya mampir terlebih dulu ke puncak batu tumpuk, karena kalo belum ke puncak batu tumpuk, berarti belum ke Gunung Bongkok 😀 Tapi waktu sudah terlalu siang, karena kami memang tidak mengejar sunrise. Terlalu santai memang piknik kali ini, sesuai dengan tujuannya, kemcer alias kemping ceria.

Di puncak batu tumpuk, kami seakan bisa melihat pemandangan seluruh kota Purwakarta dari atas. Dengan latar belakang waduk Jatiluhur, berdiri gagah di samping kami, Gunung Parang yang kokoh dan memancarkan keangkuhannya yang sempurna.

Rasanya nggak mau turun dari sini…

FHD0218 FHD0231 FHD0262

Ada yang bilang, traveling adalah salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan. Bagiku, traveling bukan hanya cara untuk bersenang-senang, mengumpulkan foto, atau meraih pencapaian. Namun, untuk menemukan pengalaman dan inspirasi baru, merevitalisasi kembali hidup yang kadang berisi kejenuhan dan kekosongan.

Trip kali ini nggak muluk-muluk, nggak mengejar senset maupun sunrise dan puncak. Kami tidak ingin menaklukan alam. Kami hanya ingin piknik dengan cara kami. Karena tujuan utama naik gunung bukan puncak, melainkan ngumpul-ngumpul dan makan-makan 😀

Dan jangan pernah remehkan gunung yang pendek, karena gunung yang pendek pun bisa membuat jeda napasmu menjadi pendek alias ngos-ngosan *halah*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s