RANDOM TRIP; ARGOPURO IS A BEAUTIFUL MISTAKE

Bagaimana rasanya jika kamu punya rencana besar di penghujung tahun yang sudah dipersiapkan dari beberapa bulan sebelumnya mendadak terancam batal? Sementara cuti sudah di-acc, izin orangtua sudah didapat, persiapan juga sudah diatur sedemikian rupa.

Semua dimulai dari ajakan seorang teman untuk melakukan pendakian panjang, yang memang biasa kami lakukan 2 tahun belakangan. Setelah sebelumnya kami melakukan pendakian ke Gunung Semeru, lalu Gunung Rinjani, kali ini temanku mengajak kami mendaki Gunung Argopuro di daerah Probolinggo. Pendakian ini memakan waktu cukup panjang, yakni sekitar 1 minggu, dan itu sudah termasuk perjalanan Jakarta—Probolinggo—Jakarta.

H-9 masalah dimulai. Temanku yang sudah kami anggap “leader” di kelompok ini, yang dari awal mengusulkan dan merencanakan pendakian ini semua, tiba-tiba saja mengundurkan diri dengan alasan tidak dapat izin dari istri (-_-). Menyusul 3 orang yang juga ikut-ikutan mengundurkan diri, lalu 1 orang mengundurkan diri tepat di H-1 (-__-). Dari 9 orang, hanya 4 orang yang akhirnya fix berangkat (T.T). Bagaikan penonton alay dahsyat kehilangan Elly Sugigi…, tidak ada yang bisa mengarahkan trip ini. Rasanya hopeless mengingat rencana ini sudah diwacanakan lebih dari 4 bulan sebelumnya, dan tiket kereta api pun sudah dibeli. Terlalu berisiko jika kami tetap nekad ke Argopuro, mengingat belum satu pun dari kami yang pernah ke sana. Selain itu, track yang cukup berat dan budget yang pasti membengkak jika hanya sedikit orang yang ikut, juga jadi pertimbangan. Apalagi dari 4 orang ini, laki-lakinya hanya satu dan kurang berpengalaman (sori Jay! :p) alias kurang bisa mengambil keputusan. Tidak mau euphoria luluh lantah *halah* akhirnya aku coba puter otak, cari alternatif lain supaya cuti & izin yang sudah didapat tidak sia-sia.

Maybe it’s Fortunetly for us. Pas lagi curhat, justru ditawari teman untuk gabung bersama dia ke Gunung Andong & Gunung Merapi di tanggal yang hampir bersamaan. Yup, Gunung Andong itu terletak di Magelang—Jawa Tengah, tapi tiket yang kami punya tujuan ke Surabaya—Jawa Timur (-__-). Untungnya temanku itu rencana start mendaki di tanggal 24 Desember sore, sedangkan kami diperkirakan sampai di Surabaya tanggal 23 Desember dini hari. Jadi, masih ada waktu seharian di tanggal 23 itu untuk puas bermain di Surabaya, lalu malam atau keesokan subuhnya langsung menyusul ke Magelang. Temanku itu sudah berpengalaman, jadi aku tidak perlu khawatir masalah survival nanti di gunung, apalagi menurutnya akomodasi ke basecamp Gunung Andong mudah dan tidak perlu sewa mobil. Great plan! Aku langsung share ke teman-teman yang lain, dan mereka setuju. Masalah selesai? Tidak juga. Masih banyak masalah-masalah kecil lainnya yang perlu dipikirkan. Misalnya, mau main ke mana seharian di tanggal 23 dan bagaimana transportasinya, naik bus apa ke Magelang dan lewat mana, kapan dan bagaimana cara pulang ke Jakarta dari Jogja setelah turun dari Merapi, hingga hal-hal yang tidak kalah urgent, seperti siapa yang akan membawa tenda, nesting, kompor, harus bawa berapa, lalu masalah tiket, ambil tiket yang sudah dicetak, refund tiket pulang, bla… bla… bla…

Sedikit demi sedikit masalah-masalah itu dibereskan. Karena masih banyak yang harus dipikirin nantinya (terutama cara pulang dari Jogja ke Jakarta di saat peak seassion tanpa tiket apa pun di tangan) dan sedari awal rencana pun sudah berantakan, kami jadi kurang bersemangat menjalaninya. Yang penting tetap berangkat, cuti dan izin tidak sia-sia, itu saja.

 

Hari ke-1 (Selasa, 22 Desember 2015)

Kereta Api Gumarang tujuan Pasar Senen (Jakarta)—Pasar Turi (Surabaya) berangkat pukul 15.45 WIB. Tepat 15 menit sebelum kereta berangkat dan saat antrian masuk baru dibuka, aku tiba dengan disambut tampang kusut Uis, Mba Sri, dan Vijay, yang masing-masing membawa keril besar super heboh. Padahal sudah minta abang gojeknya ngebut, lho. Kebetulan mereka bertiga berangkat dari rumah, sedangkan aku harus kerja lebih dulu hingga pukul setengah tiga sore, kemudian langsung berangkat dari kantor. FYI, ternyata pegal banget naik ojek sambil bawa keril, belum lagi mesti tetap jaga jarak sama si abang gojek biar tetep syar’i (>.<).

 

Hari ke-2 (Rabu, 23 Desember 2015)

Pukul 03.30 WIB kereta tiba di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, lewat 10 menit dari jadwal semestinya. Di situ sudah menanti Pak Marno, sopir rental mobil yang kami sewa, yang akan mengantarkan kami keliling Surabaya (atau Malang, entahlah, sebenarnya saat itu pun kami masih galau menentukan pilihan) seharian ini. Lalu ada Adhi, temanku orang Surabaya yang awalnya hendak ikut ke Argopuro, tetapi dia sendiri yang mendadak cancel dengan dalih bahwa pacarnya-lah yang bilang cancel (terserah lo deh, Dhi!). Dia memutuskan untuk ikut main seharian ini, tetapi tidak ikut trip ke gunung. Lumayan, untuk nambahin patungan sewa mobil, hehee…

Seharian itu kami memilih untuk meng-eksplore Malang, tepatnya ke Banyu Anjlok, yaitu tempat wisata di kota Malang yang konon masih baru dan belum terlalu ramai dibicarakan. Dari Surabaya ke Malang memakan waktu sekitar 1,5 jam, dan dari Malang ke Banyu Anjlok sekitar 3 jam dengan track mengelilingi perbukitan.

Setelah tidur—bangun—ngobrol—terguncang2—kejedug—tidur lagi—bangun—pingin muntah—haha hihi—bengong—tidur lagi, akhirnya sampai juga di Pantai Lenggoksono. Kami membayar retribusi masuk tempat wisata sebesar 5ribu/orang. Di situ kami menyewa jukung alias perahu boat kecil dengan tarif 50ribu/orang include life vest untuk keperluan eksplore pulau. Pantai ini cenderung sepi, mungkin karena kami datang pada hari kerja. Kata Mas Perahu yang kami sewa, jika hari libur biasanya semua perahu yang sebanyak 17 itu turun ke jalan (eh, ke laut maksudnya), tetapi hari ini hanya 6 perahu yang turun. Dari pantai lenggoksono, kami memulai tour perahu ke Banyu Anjlok. Arus di situ cukup deras, cocok untuk yang mau mencoba surfing *sotoy. Banyu Anjlok sendiri merupakan air terjun yang mengalir dan langsung jatuh ke laut, mirip Banyu Tibo di Pacitan. Dari Banyu Anjlok, tour dilanjutkan ke Pulau Kletekan yang merupakan spot snorkeling. Vijay, Adhi, dan Uis akhirnya memutuskan untuk snorkeling, sedangkan aku dan Mba Sri tetap di jukung karena tidak mau basah-basahan.

FHD0044
Mba Sri lagi bergaya 😀
FHD0113
Cie.. lari2an kaya pilem India

 

FHD0027
Sebelum insiden ‘tenggelamnya kacamata Uis’
FHD0024
siyap2 tour pulau

 

Suasana tour menjadi lumayan suram saat insiden kacamata minus 4 milik Uis yang dititipin ke aku dengan bersahajanya nyemplung begitu saja ke laut (>.<). Rasanya ingin langsung nyebur menangkap kacamata itu, kalau saja tidak ingat sedang memakai rok panjang lebar dan tidak membawa banyak baju ganti untuk beberapa hari ke depan, hiks. Walau sudah dibantu Mas Perahu, kacamatanya tidak juga ketemu. Mungkin si kacamata ingin bebas dan tetap tinggal di Malang *positif thinking*. Dari situ dilanjutkan ke Pantai Bolu-Bolu. Tidak ada yang terlalu istimewa di pantai ini, kami hanya menumpang makan siang di warung. Mungkin karena pantainya cenderung banyak sampah yang terbawa oleh air laut ke pantai ini, sehingga tidak banyak yang ingin singgah di sini. Dari sini, kami kembali ke Pantai Lenggoksono, bersih-bersih, lalu melanjutkan ke destinasi lain.

Tujuan berikutnya adalah Musium Angkut di Kota Batu. Sebelum ke sana, kami menyempatkan diri singgah ke Optik lokal untuk membuat kacamata baru untuk Uis. Kasihan matanya sudah terlalu lelah melihat kenyataan, eh, maksudnya melihat kondisi yang buram. Pengeluaran tambah membengkak untuk biaya pembuatan kacamata…huft. Menjelang magrib, kami baru sampai Museum Angkut. Setelah puas berkeliling dan foto-foto narsis di museum yang saat itu dimintai tarif masuk 80ribu/orang (muahal euy), kami pun memutuskan pulang. Hm, pulang? Lebih tepatnya melanjutkan perjalanan ke Magelang untuk bergabung dengan teman yang akan mendaki ke Gunung Andong.

AgsGbdBtkdZfi9v3lsFkHt6GsFCDqG3aRhqrIY2bUZsg
Baru nemu yg beginian 😀

 

AmSW7nfn2nAYzGxk_EOUD5q4XOYJ7OO3bGBFvscI28ag
‘Abbey Road’ versi syariah
AmMXpLamiwj93mi4rRkcEEPHrVqsqKR6ciwjQwU_Ovku
Foto Keluarga

 

Sekitar pukul 22.00, setelah mengambil pesanan kacamata Uis, kami menuju terminal Malang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke Surabaya, lalu ke Magelang. Kondisi bus yang langka dan selalu penuh, ditambah kondisi badan yang sudah remuk, mengurungkan niat kami malam itu langsung berangkat. Akhirnya, kami menerima kebaikan hati Pak Marno untuk menginap di rumahnya semalam, sebelum lebih dahulu berpisah dengan Adhi yang tetap memutuskan pulang ke Surabaya malam itu juga.

Alhamdulillah, kami bisa mandi, bersih-bersih, re-packing, istirahat, bahkan dikasih sarapan oleh Pak Marno & istrinya yang baik hati. *Berbinar-binar*

 

Hari ke-3 (Kamis, 24 Desember 2015)

Pukul 04.30 kami sudah bangun, menuju kembali ke terminal Malang, lalu menaiki bus yang menuju Surabaya. Sebenarnya kami ingin naik travel saja dari Malang yang langsung menuju ke Magelang, tetapi semua travel yang dihubungi Pak Marno ternyata sudah penuh. Pukul 06.00 tepat kami sampai di Terminal Bungurasih.

Unpredictable, ternyata kondisi Terminal Bungurasih saat itu amat sangat crowded. Terjadi penumpukan penumpang dari malam sebelumnya, terutama yang akan menuju Jogja, Magelang, dan sekitarnya. Setelah menunggu bus yang dituju tanpa adanya tanda-tanda kemunculan bus, bertanya ke orang-orang yang ada di terminal tanpa mendapat kejelasan , menunggu kepastian yang tidak pasti di agen bus terminal, bolak-balik mencari agen travel yang ternyata penuh semua (kalau pun ada, harga yang ditawarkan tidak manusiawi), lalu sempat memikirkan alternatif bus tujuan lain yang dekat ke arah Magelang, kami pun pergi ke pull (atau garasi) bus yang langsung menuju Jogja dan Magelang. Ternyata di sana pun terjadi penumpukan penumpang dari semalam. Untuk bisa mendapet tiket, harus antre panjang yang saat itu panjang putaran antreannya mengalahkan obat nyamuk bakar. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi yang artinya sudah jelas tidak akan mungkin bisa menyusul teman-teman yang akan ke Gunung Andong. Panik, bingung, lemas, tidak mengerti lagi harus bagaimana. Tiga jam terlunta-lunta tanpa kepastian di Terminal Bungurasih, sampai kepikiran mau pulang saja ke Jakarta, hiks (T.T).

Saat suasana kalut seperti itu, Vijay tiba-tiba mencetuskan ide untuk tetap pergi ke Argopuro. Karena blank, semuanya meng-iya-kan saja. Kemudian jadi bingung sendiri, bagaimana cara ke basecamp Argopuro dan mesti naik apa. Setelah searching sana-sini, tanya-tanya orang di sekitar, kami belum juga mendapat keputusan apa-apa. ketika melihat taksi menepi di pinggir jalan, kami mencoba negosiasi harga taksi untuk diantar sampai basecamp di Probolinggo. Setelah negosiasi alot dengan kebodohan masing-masing karena tidak tahu di mana persisnya basecamp itu, kami sepakati harga 500ribu sampai Pasar Bremi, Probolinggo. Aku baru menyadari bahwa seharusnya kami menuju basecamp Baderan, bukannya Bremi (sesuai itinerary yang disusun teman). Namun, akhirnya kami diam saja karena tidak mau membuat suasana semakin kacau karena masing-masing sudah cukup stres.

Setelah lebih kurang 5 jam di dalam taksi dengan berkali-kali tersesat dan mendengarkan ocehan plus gerutuan abang taksi yang protes karena menurutnya terlalu jauh, sehingga dia minta tambahan ongkos, kami sampai di Polsek Bremi setelah sebelumnya belanja seadanya di Pasar Krucil (pasar terakhir sebelum Desa Bremi). Kebodohan kami berikutnya adalah mengira bahwa basecamp Bremi adalah sebuah pasar (-_-). Baru kali ini mengalami sendiri pergi ke basecamp pendakian naik taksi (._.), padahal biasanya naik pick up atau paling keren naik angkot. Setelah menolak tuntutan 750rbu dari si abang taksi dan ‘terpaksa’ membayar ongkos 650rbu diiringi tampang memelas, kami bergegas lapor diri ke Polsek (ish, seperti abis dirampok…), lalu jalan kaki menuju basecamp, sesuai arahan bapak polisi.

Rasa haru bercampur plooong kami rasakan karena berhasil mencapai basecamp, yang artinya tanpa terduga, kami bisa tetap mendaki Gunung Argopuro. Namun, kami mendadak lemas lagi begitu tahu simaksi Argopuro rasanya tidak wajar. Perorang dikenai Rp30rbu/hari, yang artinya 4 hari dikenai Rp120ribu/orang dikali 4 orang sama dengan Rp480rbu!!! Kali ini bener-bener merasa abis dirampok, ini gunung termahal yang pernah kami daki…! (T.T)

Capture1
Biaya Simaksi segepok yang bikin tambah bangkrut (._.’)
Capture
Cuma orang-orang berpendirian kuat yg sanggup baca peta jalur super berantakan ini. (Udah dicorat-coret Uis)

Di basecamp, kami bertemu 2 pendaki lain, Mas Diky & Mas Badri, yang juga akan memulai pendakian hari itu. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki bersama agar lebih aman dan karena memang sangat jarang sekali orang yang mulai mendaki lewat jalur Bremi. Kami memulai pendakian pukul 4 sore.

Kesalahan kami memulai pendakian dari jalur yang bukan semestinya membawa berkah tersendiri karena bertemu 2 pemuda asal Situbondo ini. Mas Diky, mahasiswa manajemen tingkat pertama yang mengaku masih keturunan keraton, beragama islam kejawen, dan memiliki segudang pengalaman mendaki, termasuk Gunung Semeru, Rinjani, Raung (wow), bahkan sudah 3 x ke Argopuro (woowww) dan rencana akan melakukan ekspedisi Jayawijaya ini juga memiliki ‘ilmu’, yaitu bisa melihat hal-hal spiritual. Sementara Mas Badri, cowok kocak yang memiliki hobi mengumandangkan adzan ini ternyata mahasiswa seni rupa tingkat pertama yang juga bisa berkomunikasi dengan makhluk astral. *merinding*. Bertemu 2 pemuda yang masih muda (bangettt *dibanding kami ._.) tapi berpikiran ‘tua’ ini seperti memberi arahan kepada kami ke jalan yang benar menuju puncak Argopuro. Lumayan, ada suhu yang merangkap leader bagi team kami, jadi bisa irit karena tidak perlu sewa porter dan guide lagi, hihihii…

Ao9WkV55HeyJMSRZH_NgnxNZOxk3CLIr4rnxKr2Y_DCn
Keluarga baru… Baru nemu di basecamp 😀

Awal pendakian kami mulai dengan melewati kawasan Taman Hidup. Estimasi tercepat untuk sampai di tempat camp, di danau taman hidup adalah 3 jam dan maksimum 6 jam. Namun, sepertinya Tuhan masih ingin menguji kami…

Hingga 8 jam perjalanan, kami belum juga sampai di danau taman hidup, sementara suasana semakin gelap dan mencekam. Gerimis deras setiap kali kami break istirahat dan kabut tebal setiap kami memulai lagi perjalanan. Puncaknya, saat Uis merasa mulai tidak enak, lalu diam dan menangis. Ternyata, menurut Mas Diky, ada makhluk-makhluk lain yang ikut menemani perjalanan kami dan ingin masuk ke dalam tubuh Uis. Bahkan, penampakan Ratu Rengganis pun ada di situ. Makhluk itu juga yang memutar-mutar jalan kami, sehingga kami tidak juga sampai ke pos camp. Percaya gak percaya sih, tapi sumpah, saat itu rasanya pengen teleport saja, pergi jauh dari situ. Suasana mistik Argopuro yang terkenal masih sangat kuat itu bener-bener kami alami. Di tengah hutan seakan berubah menjadi surau karena kami tidak berhenti mengaji dan membaca shalawat. Demi keamanan, kami memutuskan nge-camp di jalur dan melanjutkan perjalanan besok pagi. Karena tidak cukup untuk mendirikan tenda di jalur, kami pun tidur di atas tenda yang dijadikan alas tidur, dengan posisi merapat satu sama lain agar tetap hangat.

 

Hari ke-4 (Jumat, 25 Desember 2015)

Setelah kondisi Uis sudah lebih baik dan langit sudah mulai terang, kami melanjutkan perjalanan dengan dibantu beberapa pendaki yang kebetulan berada tidak jauh dari situ untuk membantu membawakan keril kami. Tidak lama setelah itu, kami sampai di pos danau taman hidup. Sebuah danau yang indah di tempat indah yang mistik. Ada gajebo kecil di pinggir danau yang sangat fotoable. Pendaki juga bisa memancing ikan di situ dan mengambil persediaan air. Hal ini karena untuk perjalanan berikutnya sampai dengan pos rawa embik, kami tidak akan menemukan sumber air, sedangkan sebelum mencapai pos rawa embik, kami harus nge-camp di pos cemara lima, bahkan kami juga akan melewati arah puncak terlebih dahulu. Itulah tidak enaknya mendaki Gunung Argopuro via Bremi, yang memang banyak dihindari pendaki lain, karena untuk mencapai pos yang terdapat sumber mata air berikutnya masih sangat jauh. Beruntungnya, Mas Diky sudah berkali-kali ke Argopuro, sehingga dia tahu di mana adanya sumber mata air kecil yang tidak banyak pendaki lain tahu.

FHD0217
Bukan hotel bintang 5… Ini hotel 1000 bintang (*.*)

Di pos ini sudah banyak berdiri tenda. Kami menyempatkan diri memasak dan sarapan di sini, sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke pos berikutnya.

Setelah berjalan seharian, kami sampai di pos cemara lima. Kami memutuskan nge-camp di sini, sebelum keesokan harinya harus bersiap-siap melakukan perjalanan menuju puncak.

Hari ke-5 (Sabtu, 26 Desember 2015)

Pagi hari, setelah memasak, sarapan, dan merapikan kembali barang bawaan, kami melanjutkan perjalanan ke arah puncak yang jalurnya cenderung menanjak terus. Target kami berikutnya adalah Pos Sabana Lonceng.

Argopuro memiliki 3 puncak, yakni Puncak Yang (atau puncak arca), Puncak Argopuro, dan Puncak Rengganis. Puncak yang paling awal dapat kami gapai adalah Puncak Yang, lalu Puncak Argopuro yang merupakan puncak tertinggi, kemudian Puncak Rengganis yang letaknya tidak jauh dari Puncak Argopuro. Kami hanya melewati Puncak Yang tanpa mendakinya karena hari sudah semakin sore. Ketika sampai di Pos Sabana Lonceng, kami meletakkan keril, lalu berjalan menuju Puncak Argopuro yang tidak jauh dari situ. Tidak perlu khawatir meninggalkan tas keril di Sabana Lonceng karena tidak akan ada yang mengambil. Mungkin karena begitu mistiknya Gunung Argopuro, sehingga orang tidak berani berbuat macam-macam.

Pencapaian terbesar kami selama trip ini adalah sampai ke Puncak Argopuro. Seakan lupa akan semua masalah dan kekacauan di awal perencanaan dan perjalanan trip. Puncak rasanya seperti kavling pribadi, karena hanya ada kami berenam di sana. Rasanya ingin waktu berhenti sesaat agar kami bisa puas menikmati hasil jerih payah usaha kami sampai ke puncak.

Amm-0EX3AtwyHIFQu1-wm_Zvqg-gahClYGx1DrMsG_sw
We are New Family (^_^)

Turun dari Puncak Argopuro, kami memutuskan langsung kembali ke Pos Sabana Lonceng dan tidak menuju Puncak Rengganis karena hari semakin sore dan berkabut. Kami tidak mau sampai kemalaman sebelum mencapai tujuan berikutnya, yakni Pos Rawa Embik. Perjalanan menuju Pos Rawa Embik kembali membuat suasana kalut dan tegang karena suasana kembali mencekam dan lagi-lagi menimpa Uis (*pukpuk Uis). Untungnya suasana masih bisa dikondusifkan dan perjalanan bisa dilanjutkan.

Hari ke-6 (Minggu, 27 Desember 2015)

Pagi hari yang dingin dibuka dengan semangat karena kami sudah bersiap untuk turun dan langsung menuju pos terakhir, Baderan. Setelah re-packing, kami melanjutkan perjanan dengan target berikutnya adalah pos Cisentor.

Perjalanan menuju Cisentor cenderung menurun dengan jalur penuh semak belukar. Sampai di Cisentor terdapat bangunan pos kecil dan aliran sungai kecil di jalur bawahnya. Di sini, kami hanya istirahat sejenak, lalu melanjutkan kembali perjalanan ke target berikutnya, yaitu Pos Cikasur, yang di awal jalurnya penuh tanjakan.

Saat menuju Cikasur, kami melewati banyak sekali Sabana yang landai, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Cikasur sendiri merupakan sabana yang maha luas, lebih mirip lapangan golf atau landasan udara. Konon (kata Mas Diky) dulu tempat ini sering dipakai penjajah di zaman Belanda untuk mendaratkan pesawatnya. Tidak jauh dari Cikasur, ada sumber mata air melimpah berupa sungai kecil dengan arus yang stabil, yang dihiasi tumbuhan selada air yang begitu melimpah di sekelilingnya. Seperti menemukan surga dunia, kami jingkrak-jingkrak kegirangan, melepaskan sepatu, merendam kaki, lalu minum air langsung dari situ dan mencicipi selada air. Bahkan, Mas Diky & Mas Badri memilih untuk membuka baju dan berendem di situ.

FHD0276FHD0271

Cukup lama kami ada di situ sampai akhirnya melanjutkan kembali perjalanan dengan target langsung turun sampai basecamp Baderan. Karena Mas Diky & Mas Badri masih sibuk mengambil air dan mengganti pakaian setelah berendam, kami berempat memutuskan untuk melanjutkan perjalan lebih dulu.

Bagaikan jalan tak berujung, kami melewati banyak sekali sabana luas dan semak belukar. Semakin sore, kabut semakin tebal. Bahkan, gerimis pun turun, sehingga membuat jalan tanah yang jalurnya cenderung menurun terus menjadi sangat licin. Ditambah jalur yang rusak karena sudah terdapat jalut motor trail membuat jalur kaki kami semakin sempit dan licin. FYI, dari basecamp Baderan ke sumber mata air Cisentor sebenarnya bisa dilalui dengan menggunakan ojek, tetapi pendaki harus rela membayar ongkos ojek 225rbu. Sempet terpikir untuk menyetop ojek dan meminta diantar sampai basecamp Baderan, tetapi urung mengingat perjalanan kami beberapa hari itu saja sudah cukup membuat bangkrut.

Setelah berjalan berjam-jam lamanya, kami baru mencapai pos Mata Air II. Di sini, kami banyak berpapasan dengan pendaki lain yang baru memulai pendakian melalui basecamp Baderan. Pos Mata Air I baru bisa kami capai tepat saat magrib, saat kondisi masing-masing sudah mulai drop. Kami berempat melanjutkan perjalanan, tetapi kondisi semakin gelap dan berisiko. Untungnya, di sini kami bertemu kembali dengan Mas Diky & Mas Badri yang berhasil menyusul. Rencana awal, kami akan mengejar perjalanan sampai basecamp Baderan, lalu istirahat dan menginap di basecamp terpaksa dibatalkan. Demi keselamatan, kami memutuskan nge-camp lagi di jalur, mengingat kondisi semakin gelap dan berkabut, dan perjalanan sampai basecamp masih harus ditempuh paling cepat 2 jam lagi.

 

Hari ke-7 (Senin, 28 Desember 2015)

Jam 6 pagi, kami sudah bersiap menuntaskan perjalanan ini. Semakin mencapai kaki gunung, jalanan semakin tertata dengan jalur yang dibuat berbatu. Dengan kondisi kaki yang sudah lecet parah di kanan-kiri, justru menyulitkanku untuk berjalan di bebatuan. Pagi itu sudah terlihat banyak pemuda hilir mudik ke kaki gunung untuk mengambil rumput dengan sepeda motornya.

Sekitar pukul 9 pagi, akhirnya aku sampai di basecamp Baderan dengan tertatih-tatih dibantu abang ojek dengan tarif 20ribu. Iyaaaa, si Lis naik ojek, padahal sudah hampir sampai basecamp (-_-!). Udah tidak sanggup berjalan di bebatuan dengan lecet-lecet di sekujur kaki. Rasanya ingin nangis kesakitan, tapi juga kesenangan karena penderitaan rasanya sudah berakhir.

Agt5tDx-fpg-DSuonZqBDFTURxMBzh-B0rLyA2DlCZM_
Padahal lagi lemes maksimal. Ketiup angin juga jatoh, tuh.
As_eItX3luhEpySeubwRTSLhNPjJD2yVToeZ_HlMkVSR
Kotor, dekil, lecet di sekujur badan & kaki. Berasa jadi anak kampung yang kurang perhatian pemerintah

Ini adalah perjalanan yang penuh emosi dan pikiran sejak awal. Tidak pernah nyangka sebelumnya, akhirnya kami bisa sampai ke Argopuro dengan cara yang tidak pernah terduga. Banyak kejadian tidak mengenakan yang terus-menerus dilalui, tetapi juga banyak keberuntungan yang selalu datang tidak terduga. Seperti ujian fisik dan mental yang menumbuhkan kesadaran bahwa apa pun bisa saja terjadi atas kehendaknya. Sedari awal, sepanjang perjalanan selalu diingatkan untuk senantiasa berdoa dan bersyukur. Bahwa Allah Ta’Ala telah merencanakan semuanya. Merencanakan perjalanan berliku kami untuk tetap bisa menginjakkan kaki di Gunung Argopuro. Takdir dariNYA atas pertemuan kami berempat-pendaki ababil-dengan 2 pemuda unik asal Situbondo yang tidak pernah kami duga sebelumnya, yang memberikan banyak sekali cerita. Perjalanan yang diragukan beberapa pihak, yang sejak awal kami pun merasa bahwa ini merupakan kesalahan, justru menjadi kesalahan yang begitu indah, dengan begitu banyaknya pelajaran yang dapat kami petik dan kenangan yang bisa kami simpan. Mungkin ini memang suatu kesalahan. Namun, kami percaya, ini merupakan kesalahan yang indah, karena Tuhan telah merencanakan semuanya.

Setelah melapor ke basecamp Baderan—dengan laporan penambahan menjadi 5 hari pendakian yang untung saja tidak ada penambahan biaya simaksi, hehee—kami bergegas menuju angkot carteran yang akan mengantar kami ke Situbondo. Kami berpisah dengan Mas Diky & Mas Badri di Situbondo, karena kami harus melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.

Perjalanan bus Akas menuju Surabaya cukup panjang. Pukul setengah 4 sore kami sampai di Terminal Bungurasih, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus lokal menuju Stasiun Pasar Turi. Ada sedikit masalah mengenai tiket pulang. Karena sejak awal kami berencana mengalihkan pendakian ke Gunung Andong di Magelang dan Merapi di Jogja, sehingga kemungkinan besar kami akan pulang dari Jogja, jadi kami tidak mengambil tiket pulang Surabaya-Jakarta yang sudah dicetak temanku. Setelah mengurus ke CS Stasiun Pasar Turi dengan alasan tiket hilang, akhirnya kami tetap bisa menaiki kereta api Kertajaya jurusan Surabaya-Jakarta dengan dibekali surat perjalanan pengganti tiket yang hilang. Alhamdulillah, Allah still save us ^^. Setelah mandi di mushala stasiun dan makan di angkringan pinggir jalan, kami berpisah dengan Uis yang memilih pulang dengan menggunakan pesawat karena mengejar waktu malam itu juga harus sampai Jakarta. Kami bertiga pun siap menaiki kereta yang akan mengantarkan kami kembali ke rumah dengan membawa berjuta cerita, baik yang bisa kami ceritakan, maupun yang hanya bisa kami kenang dan simpan sendiri dalam ingatan.

 

QOTD (Quote of That Day) yang tidak terlupakan dari mereka…

 

Uis          : “Argopuro gak sebercanda itu… trus jangan lupa mba, pake hestek #MyTripCompangCamping.” <- Geregetan & bangkrut maksimal :O

Vijay      : “Terserah, Mba… Gw sih ngikut aja.” <- Gak punya pendirian (-__-!)

MbaSri  : “Baru kali ini ke basecamp naik taksi… Simaksinya mahal bangettt… Bremi itu jalur evakuasi, baru kali ini ada yang start via Bremi.” <- Heboh sendiri sama yang serba pertama kali (._.) *iya deh, mbaaa*

Suporting

Mas Diky              : ”Aku ke Semeru cuma 1 jam, naik kabut… Mau makan enak? (ngomong di tengah padang savana yg terkenal sepi n angker)… Mau apa kamu? (ngomong sama kupu-kupu hitam di hadapannya)…” <- Terserah lo aja deh, Mas! (-_-!) *sampe sini lgs merinding*

Mas Badry           : “AyAku suka ikut pertunjukan di Teater Hampa… Di belakang rumahku pantai, aku seneng lama-lama di sana…” <- Calon seniman yang sering galau berkepanjangan

Adhi                       : “Gw tuh pengen banget ke Argopuro.” <- Bodo amat (-_-)

Pak Marno          : “Saya udah minta istri siapkan kamar. Kalian nginep aja dulu di rumah saya, gapapa!” <- hiks, Bapak baik banget sih :,)

 

Lis           : “Gimana, ada yang punya alternatif lain???”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s