Tua Bukan Berarti Dewasa

Duhh, judulnya provokatif banget…

Bukan tanpa maksud aku nyinyir begini. Ini semata-mata karena satu orang—sebut saja rawam (karena ‘mawar’ sudah terlalu mainstream)—yang sikapnya sama sekali tidak menunjukkan jumlah umur yang disandangnya, pola pikir yang semestinya dimilikinya, dan arah hidup yang sejatinya ditujunya, halah! *dikeplak pake KTP*

Jadi begini. Dia itu anak perempuan satu-satunya di keluarganya yang notabene sudah mapan semua. Kalo bisa dibilang sih, cuma dia satu-satunya yang belum mapan dan sepertinya kurang berhasrat untuk mapan. Bahkan, sampe detik ini pun dia masih ketergantungan (dalam hal biaya hidup) sama kakak-kakaknya itu.

“Lho, kok bisa? Emang ada yang begitu? Biasanya kalo sekeluarga sukses, sudah pasti saudaranya (apalagi adik) gampang ikut sukses?” Tanya kalian meragukan keseriusan hubungan kita… Pret lah!

Tapi bukan itu yang mau aku bahas. Tapi sebenernya nyambung juga sih. Tapi aku kan nggak mau gibah. Tapi… Apa sih Lis?! Ya sudahlah, lebih baik dibaca saja!

Mungkin karena dia itu perempuan satu-satunya. Apalagi semua saudaranya sudah menjamin kehidupan dia. Dalam arti, tidak bekerja pun (walau diiringi hobinya travelling dan main COC) dia akan tetap bisa bertahan hidup. Setiap bulan, dia sudah mendapat jatah khusus uang bulanan dari masing-masing kakaknya. Hidup dalam zona aman, dengan fasilitas lengkap yang sudah disediakan saudara-saudaranya.

Menurutku (kamu pun pasti setuju #heuu), itulah yang membentuk karakternya menjadi “sedikit” manja, dan kurang menghargai arti bekerja keras. Mungkin karena dia merasa kehidupannya sudah ada yang menjamin, sehingga dia tidak terlalu ngotot untuk menjadi sukses atas inisiatifnya sendiri. Oleh karena hidupnya terbiasa enak, saat ada di posisi yang baginya menyusahkan, solusinya adalah protes. Menggerutu, ngedumel, apa pun sebutannya, yang tentunya akan sangat tidak menyenangkan bila saat seperti itu kamu sedang ada di dekatnya.

Belakangan ini aku sering bersama dia. Entah kenapa, jangankan kamu, aku juga bingung, kapan kita bisa bersama… Ish, udah sih, Lis! Usia dia sendiri sebenarnya sudah seumur kakakku yang punya anak usia sekolah dasar. Namun, sama sepertiku, dia masih asik menyelami kesendiriannya, tanpa dipusingi urusan rumah tangga.

Bisa ditebak, ujung-ujungnya aku jadi salah satu pelampiasan gerutuannya. Padahal sih, dengan predikatku sebagai anak bungsu dan beda usiaku yang cukup jauh di bawahnya, semestinya sikap kami berkebalikannya. Kenyataannya, saat sedang bersama dia, aku selayaknya kakak penyabar yang setia mendengarkan keluh kesahnya yang sebenarnya cukup sepele, dan memberikan nasihat seadanya.

Mirisss… (Biar tegas pake es nya tiga. walau sebenernya aku kurang suka es, bikin gigi ngilu).

cartoon

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s