Belitung; Catatan Backpacking ke Negeri Laskar Pelangi

Selalu ada jalan buat yang niat banget mau jalan-jalan 😀

Jujur, semenjak nonton film Laskar Pelangi beberapa tahun lalu jadi kepingin banget pergi ke Belitung, terutama ke pantai2nya yang terkenal dengan batu granitnya. Nah, tahun kemarin sebetulnya punya rencana akhir tahun ke sana. Cuma, karena masih musim hujan, percuma juga ya main ke pantai. Jadinya, lagi2 cuma sekedar wacana. Pas kebetulan lihat kalender di awal maret kemarin, ternyata saya masih punya 3 hari cuti yang bakalan hangus kalo nggak dipake sampe dengan akhir April. Akhirnya diputuskan, ambil jatah cuti 3 hari itu untuk ke Belitung.

Masalahnya, susah banget nyari temen buat ngetrip ke Belitung di hari kerja, 3 hari pula. Malahan, udah bikin thread di website BPI segala, tapi tetep aja gak laku… *hiks*. Setelah maju-mundur plus galau akut, akhirnya saya putuskan untuk ke sana sendirian. Katanya sih, Pulau Belitung itu nggak gede2 banget, jadi bisalah dieksplore walaupun sendirian. Dan, yah.., itung2 mewujudkan harapan untuk solo travelling before 30 yo, hehe. Dua minggu sebelum berangkat, baru deh ngajuin cuti & pesen tiket pesawat, soalnya baru bener2 mantap buat bersolo-traveling. Trus, makin intens searching ini-itu plus install aplikasi navigasi & route biar di sana nggak nyasar. Oiya, tiket ke Jakarta-Tj.Pandan-Jakarta di hari kerja ternyata nggak mahal loh. Alhamdulillah PP by Sriwijaya saya dapet 533k, dan baru tahu juga kalo ternyata udah nggak ada airport tax lagi, hehee, *alhamdulillah lagi*

 

Day #1, Senin 18 April 2016

Karena nggak akan keburu kalo berangkat dari rumah, malam sebelumnya saya menginap di kost’an Rinny di daerah Mampang. Pagi2 buta saya udah berangkat dari Mampang ke Blok M naik gojek, dilanjutkan naik Damri sampe Terminal 1b Bandara CGK. Pukul 06.20 pesawat take off, lalu tiba di bandara H.AS. Hanandjoeddin (kalo ribet, baca aja: Hananjudin) Tanjung Pandan pukul 7.15. Yup, CGK-TJQ nggak sampe sejam. Bandara Tj.Pandan ternyata kecil, pesawat yang beroperasi pun nggak banyak.

Begitu keluar bandara, udah banyak sopir taksi yang menawarkan jasanya. Jangan bayangkan model taksi bluebird. Taksi bandara di Tj.Pandan itu semacam mobil avanza dengan sistemnya sharing cost minimum 2 orang, dengan tarif per orang 40ribu. Kebetulan saya sudah janjian dengan Pak Hasmin (nemu kontaknya di blog orang) untuk menjemput di bandara pake motor. Maksudnya sih biar nggak ribet nego taksi & bisa tanya2 info seputar Belitung ke Pak Hasmin. Saya juga akhirnya sewa motor untuk kelilingan di Pak Hasmin ini.

FHD0029
Dari subuh di Bandara CGK, sendirian T.T
FHD0434
Bandara HAS. Hanandjoeddin yang gak besar
FHD0437
Patung HAS. Hanandjoeddin di bandara TQJ
FHD0032
Jalanan dari bandara ke pusat kota Tj.Pandan. Kosoooooong

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ternyata, kota Belitung itu sepiiiii banget. Pusat kota aja sepi begini, apalagi kalo masuk ke daerah2 & Belitung Timur. Mungkin karena saya bandinginnya sama Jakarta yg sepinya kalo cuma lebaran aja (.__.). Atau, mungkin karena saya ke sana pas weekday, jadinya sepi banget. Entahlah. Dari bandara, saya minta dianterin Pak Hasmin ke Hotel Surya, di Jl.Depati Endek, tepatnya di pusat kota dekat landmark kota Tanjung Pandan yang namanya Bundaran Batu Satam. Hotel yang recommended buat backpacker low budget ini letaknya di daerah Pecinan, bangunannya tepat berada di atas toko emas. Walaupun murah, kondisi hotel ini rapi dan bersih. Dari bandara ke Hotel Surya kira2 makan waktu setengah jam.

FHD0151
Bundaran Batu Satam di malam hari
FHD0350
Penampakan Hotel Surya
FHD0352
Daerah pecinan, letak Hotel Surya
FHD0354
Lobi Hotel Surya yg bernuansa Tionghoa

Sampai di Hotel, saya memutuskan istirahat sejenak, tidur, sambil menunggu dua orang travelmates yang mau bergabung untuk explore Belitung. YUP, fortunetly, waktu searching2 di blog orang, saya ketemu traveler yang juga akan explore Belitung di tanggal yang sama, namanya Neng Awal dan temennya, Kania alias Nia. Alhamdulillah, Allah selalu bersama para musafir 😀 akhirnya terlepas dari bayangan akan nyasar & bengong sendirian. Kami pun memutuskan explore bareng. Kebetulan mereka dari Jakarta agak siang dan sampai di hotel kira2 jam 11 siang. Setelah mereka beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk langsung meng-explore, dengan destinasi pertama, yaitu pantai2 di daerah Sijuk. Namun sebelumnya, kami menyempatkan makan siang di warung nasi sekitar pasar Tj.Pandan.

Dari pertama sampai di Tj.Pandan, saya sudah dibuat takjub dengan jalanan Belitung yang super duper syepi. Kendaraan bisa dihitung pake jari. Udah gitu, 90% jalanan di sana super mulus. Hanya di beberapa titik sedang dilakukan pelebaran jalan, sehingga ada sedikit penyempitan jalan. Minusnya, di sana jarang sekali ditemukan SPBU. Sekalipun ada, tidak jarang yang malah tutup dan sangat tidak terawat. Tapi nggak perlu khawatir, di sepanjang jalan banyak sekali ditemui penjual bensin eceran dengan harga Rp7.500 per liternya.

Jalanan di Belitung itu gampang2 susah, asalkan arah jalan yang dipilih sudah benar, maka jalurnya tinggal lurus saja mengikuti jalan besar. Tapi sayangnya, di beberapa titik tidak terdapat marka jalan, sehingga menyulitkan kami untuk menentukan arah jalurnya. Setelah menempuh perjalanan Tj.Pandan-Sijuk yang seharusnya kurang dari setengah jam, tapi karena kami tidak tahu jalan jadinya lebih dari setengah jam, akhirnya kami sampai di pantai Tanjung Kelayang. Tidak ada biaya retribusi masuk ke Pantai Tanjung Kelayang ini.

FHD0360
Sepanjang jalanan kosoooooong
FHD0258
Penjual bensin eceran di pinggir jalan
DCIM100MEDIA
Pantai Tanjung Kelayang

Pantai Tanjung Kelayang ini dijadikan starting point untuk kegiatan hoping island. Sayangnya, karena saat itu weekday dan sepi pengunjung, jadi kami tidak bisa sharing cost perahu dengan pengunjung lain. Karena sangat ingin mengelilingi pulau-pulau yang ada di Belitung Barat ini, akhirnya kami bertiga tetap sewa perahu plus life vest dan google (kacamata) untuk snorkling. Efeknya, patungan jadi lebih mahal karena perahu yang mestinya bisa untuk kapasitas 10 orang jadi dipakai bertiga. Sebetulnya kami tidak membawa baju ganti karena memang awalnya tidak berniat basah2an. Tapi ternyata mupeng juga liat pulau-pulau dan spot snorkling yg keren abis, hehe…

Dari Tanjung Kelayang, kami memulai tour hoping island ini ke pulau terdekat, yaitu Pulau Burung (Batu Garuda).Tapi karena dikejar waktu, kami tidak menepi, hanya foto2 dari atas perahu di sisi pulau. Kemudian, dilanjutkan perjalanan menuju Pulau Lengkuas. Setelah terombang-ambing di atas perahu kira2 30 menit, kami sampai di Pulau Lengkuas yang terkenal dengan keberadaan Mercusuar L.I Enthoven, yaitu mercusuar yang dibangun abad ke-19 oleh orang Belanda dengan jumlah 18 lantai, 65 meter, dan 313 tangga. Sempat hopeless karena mendapati pintu masuk mercusuar digembok. Nah, kalo udah begini, cari aja petugas yang ada di sana, trus minta bukain pintunya. Kalo ketemu petugas yang namanya Pak Acit, sabar2 aja ya, orangnya emang ngeselin. Katanya, pintu mercusuar dibukanya suka2 dia, tidak peduli banyak wisatawan yg datang, soalnya wisatawan kan bukan dia yg ngundang… ish (>.<)

FHD0053
Pulau Burung (Batu garuda). Karena dari jauh, mirip kepala burung garuda.
FHD0066
Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya yg ikonik

Dari P.Lengkuas tour dilanjutkan dengan snorkling di spot terdekat dengan P.Lengkuas. Underwater di Belitung ini adalah salah satu spot snorkling terbaik yg pernah saya selami (walopun sbnrnya jarang juga sih snorklingan, hehe). Airnya jernih, coralnya cantik2, plus ikannya banyak 😀 warna-warni pula, dan senangnya ituu nggak terlihat adanya bulu babi yang mengerikan, hehee. Intinya, keren banget deh.

Puas ber-snorkling ria, tour dilanjutkan ke Pulau Gusong atau lebih dikenal dengan Pulau Pasir. Pulau ini hanya terdiri atas hamparan pasir putih yang tidak terlalu luas, yang kalo air sedang pasang, pulau ini pun ikut tenggelam. Di sini banyak terdapat bintang laut. Kemudian, dilanjutkan ke Pulau terakhir dalam tour kami, yaitu Pulau Batu Berlayar. Sesuai namanya, pulau ini terdiri atas batu2 besar. Ternyata memang pantai/pulau di Belitung itu terkenal dengan ciri khas batu granit atau batu2 besarnya.

DSCN7119
Pulau Babi/Kepayang, hanya kami lewati saja
DSCN7124
Perahu hoping island
DSCN7170
Pulau Batu Berlayar

Puas setengah harian itu keliling pulau, kami kembali ke Pantai Tanjung Kelayang yang juga sebagai titik akhir kegiatan hoping island. Setelah membayar sewa perahu & snorkling gear, kami pun membilas baju yang basah air laut dan penuh pasir, tanpa menggantinya karena kami memang tidak membawa baju ganti. Kebayang kan, kami kembali ke hotel di Kota Tj.Pandan menggunakan motor dengan kondisi baju basah (.__.). Setelah sampai di hotel, mandi dan bersih2, malam harinya kami berjalan-jalan di sekitar pusat kota (bundaran batu satam) yang tinggal berjalan kaki dari hotel. Kami berjalan-jalan di sekitar Jl. KV Senang yang berupa bangunan ruko2, salah satunya ruko yg menjual batu satam. Batu satam itu batu khas belitung yg cukup terkenal, hanya saja harganya lumayan mahal. Lalu, kami juga mampir ke Warung Mie Atep, warung makanan mie khas Belitung. Makanan Belitung ini kurang cocok dengan lidah saya karena rasa bumbunya yang manis, mirip masakan Jawa. Dan menurut saya, porsinya pun sedikit sekali. Selain Mie Atep, wajib juga dipesan es jeruk kunci. Ini minuman es jeruk pada umumnya, hanya saja rasanya jauh lebih segar. Entah jeruk apa yang dipakai (yang pasti nggak ada yang namanya jeruk kunci :p)

5
Mie Atep & Es Jeruk Kunci
FHD0150
Batu Satam, baik yg masih berbentuk batu maupun yg udah diiket cincin

Selesai explore setengah harian itu, kami memutuskan langsung istirahat, tidur untuk mengumpulkan energi, karena keesokannya kami akan explore daerah Belitung Timur yang jaraknya cukup jauh.

 

Day #2, Selasa 19 April 2016

Pagi pukul 07.00 di hari kedua, kami bertiga langsung beranjak keluar hotel untuk meng-explore Belitung Timur, tepatnya ke daerah Gantung (atau Gantong) dan Manggar. Perjalanan Tj.Pandan-Gantong yang seharusnya cukup ditempuh 1,5 jam, karena kami tidak tau jalan ditambah nyasar ekstrem, perjalanan pun molor menjadi 2 jam (-___-)

Finally, kami sampai di salah satu tujuan wisata utama di Belitung Timur, tepatnya di replika SD Muhammadiyah Gantong, dengan disambut terik matahari yang sangat menyengat. Buat yang belum tahu, bangunan SD ini merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi, yang dibuat persis bangunan aslinya. Bangunan SD yang asli sendiri (nggak tau persisnya dmn) sudah tidak ada alias sudah diratakan, dan digabung dengan SD Negeri (entah negeri brp). Asiknya liburan di saat weekday itu, tempat2 wisata jadi cenderung sepi. Begitu sampai di sini, hanya ada kami, jadi kami bisa puas foto2. Sayangnya, kondisi di sini seperti kurang terawat. Adapun, biaya masuk ke tempat ini hanya 3ribu rupiah per orang. Murah sekali, bukan?!

Dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke Museum KATA Andrea Hirata, yaitu “Indonesia first literary museum, since 2010”. Museum unik yang penuh warna, yang setiap sudutnya penuh ide & motivasi. Yang jg terkenal dari museum ini, ada 3 cerpen Andrea Hirata yang tidak terbit di mana pun dan cuma ada dan bisa dibaca di museum ini. Katanya sih, Pak Cik Andrea Hirata sering ke sini loh. Tapi sayangnya, waktu kami ke situ, dia lagi nggak ada…*hiks. Oiya, nggak ada biaya retribusi masuk museum ini, hanya saja di pojokan ada kotak amal yg bisa diisi pengunjung dengan iuran seikhlasnya.

Dari museum, kami melanjutkan perjalanan lagi. Tapi sebelumnya, kami mampir di sebuah warung yang tidak jauh untuk makan siang. Warung makan ini menyediakan soto yang katanya khas belitung. Tapi ternyata rasanya sama saja seperti soto2 pada umumnya, hehee. Sehabis makan, kami mampir ke  Kampung Ahok, yang tidak jauh dari situ. Ternyata yang namanya Kampung Ahok itu adalah daerah tempat tinggal Ahok di Belitung, yang ditandai dengan papan bertuliskan “Kampung Ahok” yang berada di pinggir jalan, persis di seberang kediaman Pak Ahok. Sayangnya, si Nia ini antipati sekali dengan yang namanya Ahok :p jadinya kami nggak kepikiran mampir dan masuk ke rumah Ahok. Padahal katanya, rumah Ahok ini terbuka untuk wisatawan loh.

FHD0238
Soto Belitung

Sebelum melanjutkan ke destinasi berikutnya, kami lebih dulu mencari masjid untuk menunaikan kewajiban shalat. Dengan mayoritas penduduknya muslim melayu, kami tidak terlalu kesulitan menenukan masjid di sepanjang jalan Belitung. Selanjutnya, kami menuju destinasi berikutnya yang juga tidak jauh dari situ, yaitu Bendungan Besar PICE. Lagi-lagi, di tempat ini juga tidak dikenai retribusi masuk. Puas berfoto di sini, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Damar yang tidak jauh dari Manggar, tepatnya ke Vihara terbesar dan tertua di Belitung, yaitu Vihara Dewi Kwan Im. Vihara ini letaknya di daerah perbukitan, sehingga hawanya cukup sejuk. Di Vihara ini terdapat patung besar Dewi Kwan Im. Sayangnya, waktu kami ke sana, patung tersebut sedang direnovasi, sehingga kami tidak bisa berfoto di dekat patung tsb. Puas berkeliling Vihara, kami mampir ke Pantai Burong Mandi, yang masih satu wilayah dan hanya 2 menit berkendara dari Vihara. Pantai yang sangat sunyi dan cukup bersih. Saya menyempatkan diri mencicipi kopi manggar di sini, mengingat Manggar dikenal dengan istilah “kota dengan 1001 warung kopi”, sehingga ritual ngopi di sini menjadi suatu keharusan :p, sedangkan si Neng sempet2nya hammock‘an. Makin takjub, karena baik di Vihara Dewi Kwan Im maupun Pantai Burong Mandi juga tidak ada biaya retribusi masuk. Hm, ada apa dengan Belitung, mengapa semenyenangkan ini 😀 *ihik

Karena hari semakin sore dan kami berniat mengejar sunset di Pantai Tanjung Pendam yang letaknya di kota Tj.Pandan, kami pun memutuskan kembali pulang ke Kota Tj.Pandan setelah puas bersantai di Pantai Burong Mandi. Perjalanan panjang kembali kami lewati. Namun, karena sudah lebih tahu jalan dan dibantu gugel maps, kami pun tidak lagi-lagi mengalami nyasar ekstrem, seperti ketika berangkat. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri untuk berhenti di tugu perbatasan Belitung dan Belitung Timur. Kembali lagi, kami dibuat takjub karena jalanan mulus yang kosong, hingga kami memberanikan diri berfoto-foto di tengah jalan. Kapan lagi bisa begini…, kalo di Jakarta sih foto2 di tengah jalan begini namanya cari mati. :p

FHD0321
Jalanan syepi di perbatasan Belitung-Belitung Timur yang bikin pengen guling2 😀
22
Sunset di Pantai Tj.Pendam

Setelah menikmati sunset di Pantai Tj.Pendam dengan hanya membayar biaya retribusi masuk sebesar 2ribu per orang, kami kembali ke hotel dan bersih-bersih. Setelah itu, kami keluar hotel lagi untuk mencari makan. Katanya, belum ke Belitung kalo belum mencoba makanan lain khas Belitung, yaitu Gangan. Gangan ini adalah masakan berbahan dasar ikan yang diberi bumbu kuah kuning. Kami pun memesan gangan di Rumah makan  Timpo Duluk, yaitu rumah makan unik dan terkenal yang menyajikan beragam makanan khas Belitung, yang juga masih berada di kawasan kota Tj.Pandan. Biasanya, rombongan wisata akan menyempatkan diri untuk mampir ke rumah makan ini. Seperti saat kami ke sana, sudah banyak rombongan yang memenuhi meja. Malam kedua ditutup dengan kongkow dan ngopi2 cantik di Waroeng Kopi Ake, yaitu warung kopi legendaris dan tersohor, yang ada di pertokoan (ruko) di Jl. KV senang.

 

Day #3, Rabu 20 April 2016

Hari ketiga dibuka dengan melow karena sore harinya saya sudah harus kembali ke Bogor alias pulang, alias ini adalah hari terakhir saya di Belitung dalam rangkaian backpacking kali ini. Sementara itu, si Neng & Nia masih mempunyai satu hari lebih karena jadwal mereka pulang adalah keesokan harinya…. *hiks

Pukul 07.00 tepat kami sudah meluncur ke daerah Sijuk (lagi) untuk menuju Pantai Tanjung Tinggi. Cuaca sempat mendung dan gerimis waktu kami sedang dalam perjalanan, tapi itu hanya sebentar, sehingga kami bisa kembali melanjutkan perjalanan. Sebenarnya kami berencana ke pantai ini di hari pertama, tetapi karena saat itu waktunya tidak mencukupi, akhirnya baru berkesempatan di hari ketiga. Pantai yang menjadi lokasi syuting film laskar Pelangi (ditandai tugu yang menyatakan tempat pembuatan film LP) ini sangat indah, bersih, dan arusnya tenang, sehingga sangat menggoda pengunjung untuk berenang. Iya, tempatnya swiming-able banget. Apalah kami datang tidak membawa baju ganti, ditambah stok baju bersih kami menipis (T.T), sehingga memupus harapan untuk berenang dan bertekad suatu saat nanti kalo berkesempatan kembali ke Belitung harus berenang di pantai ini. Harus! Seperti halnya pantai2 di Belitung, Pantai Tj.Tinggi juga memiliki ciri khas dengan batu2 granit atau batu besarnya, sehingga menyulitkan si Neng untuk memasang hammock-nya, ckckck. Oiya, di pantai ini juga nggak dipungut biaya retribusi sama sekali, loh! *berbinar-binar*

DCIM100MEDIA
Tugu Laskar Pelangi yg menandakan tempat pembuatan film LP

Setelah puas foto2 dan bersantai serta menggalau di Pantai Tj.Tinggi, kami kembali ke Kota Tj.Pandan. Tujuan akhir kami adalah Rumah Adat Belitung dan Danau Kaolin.

Tanpa membayar retribusi (again??) kami boleh masuk, berkeliling, dan foto2 di Rumah Adat Belitung. Sayangnya, saat itu baju adatnya sedang dikembalikan ke Pemprov untuk diremajakan karena katanya sudah lusuh, jadinya kami tidak bisa berfoto menggunakan baju adat Belitung. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Kaolin. Pada dasarnya, Danau Kaolin bukanlah tempat wisata karena itu tidak ada biaya retribusi masuk. Kesalahan kami, datang ke situ di siang hari saat matahari sedang panas-panasnya. Waktu terbaik ke danau kaolin adalah pagi atau sore hari. Karena ini adalah tempat bekas penambangan yang memang daerahnya sangat panas menyengat, jadi kami tidak berlama-lama di sini.

53
Rumah Adat Belitung

Sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri untuk mencari makan siang. Agak sulit menemukan resto yang sesuai harapan di sini (semacam rumah makan padanglah yang nyaman, enak, dan lumayan murah :D). Sekalinya ada, ternyata harga makanannya cukup mahal. Sampai di hotel kami istirahat, sebelum akhirnya saya harus bergegas packing dan ke bandara untuk segera pulang. Sampe sini langsung melow (lagi). Agak nggak rela harus pulang, apalagi si Neng & Nia masih punya waktu sehari lagi di Belitung (T.T) dan mereka pulangnya besok. Walaupun berat, tetap harus menerima kenyataan. Karena katanya, “Tujuan akhir dari setiap perjalanan adalah pulang kembali ke rumah”. Katanya…

 

TIP & TRIK BACKPACKING KE BELITUNG

Mau ngetrip ke Belitung tapi tanpa agen trip atau ikut open trip, alias jalan sendiri? Bisa banget. Nah, sebagai backpacker yang baik, saya akan kasih sedikit tip backpacking ke negeri laskar pelangi 😀

  • Kalo mau suasana Belitung yang sepi, sunyi, dan dapet tiket pesawat murah, ngetrip ya pas weekday kaya saya ini hihihii 😀
  • Jangan takut untuk mencoba solo traveling, apalagi buat perempuan. Karena Allah SWT selalu bersama para musafir. Yakin deh, solo traveling itu bukan melulu berarti sendirian.
  • Kalo emang masih gak berani solo trip, mungkin bisa ditiru cara saya. Bikin thread di kaskus, website backpackerindonesia, atau situs travel lainnya buat nyari temen. Walaupun kenyataannya udah bikin thread tapi saya nggak berhasil dapet temen jalan *hiks, tapi Alhamdulillah saya nemu travelmate nggak sengaja pas lagi googling di blog orang ahahaha 😀
  • Jangan males searching. Searching macem2, mulai dari tempat wisata yang mau didatengin, jaraknya, penginapan, transportasi, sampe makanan khas daerah sana. Cari info sebanyak-banyaknya supaya dapet gambaran jelas tentang situasi di destinasi tujuan.
  • Sebelum backpacking, install aplikasi google maps, navigasi, atau route di henpon. Ini berguna supaya nggak nyasar.
  • Jangan takut bertanya ke warga sekitar. Orang Belitung itu baik2 dan enak ditanya, walau bahasa dan aksen Melayu mereka kadang2 susah banget dimengerti & bikin roaming (#.#). Kenyataannya, kami bertiga lebih banyak mencapai tempat tujuan wisata dari hasil tanya2 sama orang2 sekitar, dibanding dari GoogleMap yg signalnya suka kabur-kaburan.
  • Pake sunblock, kacamata item, topi, atau payung. Pas bukan musim ujan, ternyata Belitung itu panas banget, apalagi wisatanya kebanyakan pantai2.
  • Pake Sinyal Simpati kalo mau akses internet stabil. Provider XL jg lumayan walau terkadang suka naik turun, nggak tau kalo yg lainnya. Katanya sih jaringan Tri nggak ada di sana.

 

RINCIAN ITINERARY & BUDGET

Dari uraian catatan perjalanan (Catper) di atas, saya akan merinci itinerary dan pengeluaran selama 3 hari weekday di Belitung.

Itinerary

Day 1: 

  • Berangkat: Jakarta—Tanjung Pandan (Lebih bagus cari yang penerbangan pagi, supaya puas lebih lama di Belitung, hehe)
  • Hoping Island + Snorkling: Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Burung/Batu Garuda, Pulau Lengkuas, Pulau pasir/Gusong, Pulau Batu Berlayar
  • Kuliner Mie Atep + jalan2 di sekitar bundaran batu satam

Day 2:

  • Explore Belitung Timur (Replika SD Muhammadiyah Gantong, Museum KATA Andrea Hirata, Kampung Ahok, Bendungan Besar PICE, Vihara Dewi Kwan Im, & Pantai Burong Mandi)
  • Pantai Tanjung Pendam (Hunting Sunset)
  • Kuliner Gangan di Rumah Makan Timpo Duluk + ngopi di Waroeng Kopi Ake

Day 3:

  • Pantai Tanjung Tinggi
  • Rumah Adat Belitung
  • Danau Kaolin
  • Pulang: Tj.Pandan—Jakarta (Bagusnya cari penerbangan sore, supaya puas bisa nambah lama di Belitung, hehe)

 

Biaya-Biaya

Ini Perkiraan budgetnya yaa, tapi di luar makan. Soalnya kalo menyangkut urusan makan, apalagi kalo enak, pasti jadi lupa diri ahahahaa *elus2 perut*

  • Mampang—Blok M by Gojek Rp12.000
  • Blok M—Terminal 1b CGK by Damri Rp40.000
  • Tiket PP by Sriwijaya Air: Rp533.000 (ini harga weekday yg saya dapet, soalnya hrg tiket ke TJQ itu fluktuatif alias berubah2)
  • Bandara Tj.Pandan—Hotel Surya by ojek Pak Hasmin Rp50.000 (kalo naik taksi sharing cuma kena maksimum 40.000)
  • Penginapan, harga semalam 120.000 (2 single bed, AC, sharing kamar mandi luar, plus sarapan telur + gorengan + teh manis hangat di pagi hari), ekstrabed sehari 50.000. Kami sewa kamar 3 malam + ekstrabed 2 malam. Karena sharing cost bertiga, jadi saya kena patungan Rp150.000
  • Sewa motor 60.000 x 3 hari = Rp180.000
  • Isi bensin selama 3 hari, kira-kira saya habis Rp75.000
  • Sewa kapal hoping Island 400.000 + snorkling gear (life vest + google) per orang 40.000. Karena sharing cost bertiga, jadi saya kena patungan Rp175.000
  • Masuk tempat wisata: yang jelas, kena biaya retribusi tempat wisata cuma di SD Muhamadiyah Gantong Rp3000 & Pantai Tj.Pendam Rp2000
  • Makan: abis banyak *tutup muka*. Untuk harga makanan di Belitung itu harganya standar, yang artinya gak jauh beda sama harga Bogor & Jakarta 😀
  • Hotel Surya—Bandara TJQ dianterin si Neng naek motor, jadinya no fee 😀
  • Terminal 1b Bandara CGK—Cibinong by Damri Rp55.000

Sebenernya biaya ini bisa lebih diminimalisasi, kalo aja ada tambahan orang buat sharing cost sewa kapal hoping island dan kalo saya ada partner patungan sewa motor & bensin.

*Travelmates

DCIM100MEDIA
My ‘dadakan’ travelmates selama backpacking di Belitung, Neng (tengah) & Nia (pinky). Dua traveler seru yang ngakunya nomaden & ngefans sama Triplets. Beruntung banget bisa dipertemukan sama mereka berdua ini. 🙂
Iklan

7 thoughts on “Belitung; Catatan Backpacking ke Negeri Laskar Pelangi

    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung. Iya Pak Hasmin ojek di sana, tarif ojek berdasarkan kesepakatan aja, tp worth it bgt ko.
      Dia juga bisa sewain motornya. Waktu itu saya sewa seharian 60ribu. Kalo mau sewa mobil bisa juga kontak anaknya Pak Hasmin.
      Untuk lebih jelasnya, kontak langsung Pak hasmin di 085924945008.
      InsyaAllah bapaknya helpful banget, dia jg ramah dan hafal bgt jalanan di Belitung.

      1. Wah makasih banget infonya! Kebetulan bakal ada satu hari sendirian banget di Belitung soalnya. Buat perkiraan, kalo minta diojekin Pak Hasmin kemaren kamu kasih berapa?

    2. Saya pakai ojek Pak Hasmin cuma pas dari bandara ke Penginapan di Depati Endek. Selebihnya sewa motor sendiri.
      Kalo gak salah sih, temenku wkt itu seharian dianterin Pak Hasmin kelilingan ke Belitung Timur ngasih 200ribu, krn Beltim itu lumayan jauh. Tapi coba disepakati lagi aja.

    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung.
      Wah, udah agak lupa makan abis brp, soalnya udh lebih setahun lalu 😀
      Tapi kalo di warung2 makan gtu harganya standar aja sih. Nah, kalo yg di resto2 gtu di sana yang agak mahal.

      Coba aja hubungi Pak Hasmin (No HP: 085924945008), dia ojek dan bisa sewain motornya jg. Coba disepakati sm Pak Hasmin, orangnya baik & helpful bgt ko 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s